Senin, 07 Oktober 2013

HAL MENARIK TENTANG SEX

Tema seks memang selalu menarik, baik untuk dibicarakan antar teman sampai penelitian dengan metode ilmiah oleh para pakar karena memang ada banyak hal yang belum dipahami.
Berikut ini adalah beberapa contoh penelitian yang menyangkut aspek seks. Beberapa hasilnya cukup mengejutkan, bahkan aneh.

1. Rutin berhubungan seks menjauhkan stres
Melakukan hubungan seks, termasuk seks oral, terutama tanpa kondom diketahui lebih menyehatkan fisik dan mental kaum wanita. Studi yang dimuat dalam Archieves of Sexual Behavior itu dilakukan dengan mewawancarai 293 wanita.
Studi tersebut menyimpulkan wanita yang sering berhubungan seks tanpa kondom lebih jarang stres. Para peneliti yakin ada zat kimia tertentu dalam cairan mani yang punya efek menstabilkan mood serta menurunkan gejala depresi.

2. Kadar testosteron tinggi berarti sering masturbasi
Para peneliti dari Universitas Michigan menanyai 196 wanita tentang seberapa sering mereka berhubungan seks, masturbasi, dan bagaimana keinginan mereka untuk melakukannya. Kemudian mereka menganalisa contoh air liur para wanita itu.
Hasilnya, wanita yang memiliki level testosteron tinggi cenderung punya keinginan untuk masturbasi lebih besar. Akan tetapi, wanita dengan testosteron itu lebih suka melakukannya sendiri ketimbang dengan pasangan.

3. Prediksi orgasme dari bentuk bibir
Bentuk bibir seorang wanita mungkin bisa mengindikasikan kemungkinan ia mendapatkan orgasme. Demikian bunyi studi yang dimuat dalam Journal of Sexual Medicine tahun 2011. Menurut studi itu wanita yang lekukan bibir bagian atas (tubercle) mencolok cenderung mudah mencapai orgasme vaginal.
Walau studi itu cukup kontroversial, tetapi peneliti yang melakukan riset ini beralasan apa yang memengaruhi pembentukan tubercle janin di kandungan juga memengaruhi sirkuit saraf yang juga berdampak pada orgasme vaginal saat bayi tersebut tumbuh dewasa.

4. Bercinta memakai kaus kaki bikin mudah orgasme
Suhu ruangan ternyata ikut berpengaruh pada mudah tidaknya seorang wanita mencapai klimaks saat berhubungan seks. Wanita yang memakai kaus kaki saat bercinta diketahui lebih mudah mendapatkan orgasme.
Kaus kaki bukan hanya menghangatkan kaki tetapi juga menghangatkan amigdala dan area prefrontal korteks, area otak yang bertanggung jawab pada kecemasan, takut, dan sinyal bahaya. Apalagi seorang wanita membutuhkan perasaan aman, nyaman dan dicintai oleh pasangannya supaya mudah mencapai puncak.

5. Langkah berenergi dan orgasme
Perempuan yang berjalan dengan penuh energi diketahui lebih mudah mencapai orgasme. Menurut penelitian yang dimuat dalam Journal of Sexual Medicine tersebut, wanita yang berjalan dengan penuh energi juga memiliki otot pelvis yang baik dan sirkulasi darahnya ke organ intim lebih lancar.
Dalam hal seksualitas, kebanyakan pria merasa memiliki gairah yang lebih besar dan ingin lebih dominan dibanding wanita. Sayangnya, pengetahuan pria tentang wanita sebenarnya tak sebesar yang mereka kira, padahal agar dapat memuaskan pasangannya pria perlu membekali diri dengan hal-ihwal seksualitas perempuan.


Agar tak salah, coba cek apakah pengetahuan Anda selama ini sudah benar.

1. Pria berpikir tahu apa yang wanita mau
Banyak pria berasumsi dia mengerti apa yang para wanita mau berdasarkan apa yang sudah ia lakukan dengan wanita lain. Padahal, tidak semua wanita sama. Jadi apa yang Anda lakukan terhadap satu wanita belumlah tentu menyenangkan untuk wanita lain. Ini berlaku tidak hanya dalam seks tapi juga dalam hubungan emosional.

2. Sensasi yang dirasakan pria dan wanita sama
Tidak juga, sebenarnya sensasi yang dirasakan pria saat penetrasi tidak sama dengan apa yang dirasakan wanita. Sebenarnya bagian dalam vagina kurang sensitif dibandingkan dengan bagian luarnya, seperti klitoris. Malahan, banyak dari wanita yang merasakan penetrasi yang terlalu dalam, maka justru membuat perut terasa mual seperti saat perut dipukul.

3. Merasa menguasai semua titik sensitif
Tidak semua wanita memiliki rangsangan di tempat yang sama. Misalnya saja banyak dari wanita yang tak bisa merasakan orgasme jika tidak dilakukan stimulasi di klitoris dan bukan vagina. Tak sedikit pria yang tak tahu cara menyentuh titik sensitif wanita. Padahal, untuk mengetahuinya, cukup tanyakan pada pasangan bagian mana yang ia suka.

4. Semakin “basah” sang wanita, maka ia semakin “menginginkan Anda”
Tidak juga, kadangkala terdapat perbedaan di antara para wanita dalam hal “basah”. Tak selamanya “basah” berarti si dia semakin menginginkan Anda. Demikian juga jika pasangan Anda tidak terlalu “basah” bukan berarti dia tidak menginginkan Anda.

5. Merasa pria tak perlu mengeluarkan suara saat bercinta
Banyak dari pria yang malu mengungkapkan apa yang mereka inginkan saat berhubungan. Hilangkan pikiran tersebut karena kaum wanita tidak bisa menebak apa yang Anda mau! Jadi bicaralah, ungkapkan pada mereka apa yang Anda mau.

Data menunjukkan, hampir 10 persen pria dewasa mengalami disfungsi seksual seperti impotensi atau pun ejakulasi dini. Kondisi ini semakin parah karena kesadaran kaum Adam untuk berobat justru masih sangat rendah.

Redahnya kesadaran pria untuk berobat juga terjadi di Indonesia. Hal itu setidaknya tercermin dari data yang dimiliki On Clinic Indonesia.

Menurut General Manager On Clinic Indonesia Fithrie Firdaus, berdasarkan data yang ada, sejauh baru ini pihaknya telah menangani sekitar 180.000 pasien dengan problem disfungsi seksual, baik disfungsi ereksi (impotensi) maupun ejakulasi dini. Angka tersebut, menurutnya masih jauh lebih kecil dibandingkan jumlah pria yang tidak mendapatkan pengobatan.

“Masih ada jutaan pasien dengan disfungsi seksual yang tidak mendapat pengobatan, apakah itu impotensi dan ejakulasi. Yang kita takutkan adalah, pasien-pasien ini berobat di pinggir-pinggir jalan atau tempat-tempat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis

Secara umum ada beberapa alasan yang menyebabkan pria malas pergi berobat.

Pertama, pasien-pasien dengan disfungsi seksual terutama di Indonesia menganggap kondisi ini bukan suatu yang prioritas.

“Karena tanpa berobat pun dia bisa jalan-jalan diluar seperti orang sehat. Karena yang tahu cuma dia dan pasangannya,” katanya.
Kedua, karena si istri tidak pernah berani komplain. Fithrie menilai, istri orang Indonesia cenderung menerima keadaan (pasrah). Tetapi untuk generasi sekarang, para perempuan tidak lagi berpikir seperti itu. Pasalnya, kenikmatan seksual harus menjadi hak bersama.

“Sebuah penelitian di Inggris dan Amerika menunjukkan, sekitar 25 persen perceraian dan perselingkuhan umumnya terjadi karena hubungan seks tidak berjalan baik dan karena masalah disfungsi ereksi,” tambahnya.
Di beberapa negara maju, lanjut Fithrie, persoalan disfungsi seksual sudah dianggap sebagai problem sosial, dan bukan lagi permasalahan individu saja. Oleh karena itu, segala macam kondisi terkait disfungsi seksual telah dicover oleh asuransi. Sedangkan di Indonesia, pemerintah masih menganggap bahwa persoalan disfungsi seksual sebagai masalah kosmetik.

“Paling baru-baru sekarang saja pemerintah membicarakan disfungsi seksual. Karena dulu dianggap tabu. Padahal sebenarnya ini masalah cukup besar,” cetusnya.

Sementara itu, Prof. Jack Vaisman pendiri On Clinic Internasional mengatakan, patofisiologi penyebab disfungsi seksual secara garis besar dibagi dua yakni akibat masalah psikologis dan fisik (organik).

Penelitian terdahulu menunjukkan, masalah psikologis seseorang sangat mempengaruhi munculnya masalah disfungsi seksual sebesar 70-80 persen. Sedangkan sisanya sebesar 20 persen disebabkan karena masalah fisik.

Akan tetapi, lanjut Vaisman, sebuah penelitian terbaru pada  awal 1980-an sampai sekarang menyimpulkan bahwa penyebab utama masalah disfungsi seksual adalah 80 persen disebabkan faktor fisik (organik), sedangkan 20 persen disebabkan faktor psikis.

“Penyebabnya multifaktorial. Dan yang paling utama penyebabnya adalah karena adanya penyakit penyerta seperti diabetes, kolesterol, hipertensi, gaya hidup (merokok dan alkohol, narkoba). Kita memang fokus pada masalah fisik. Karena psikis itu otomatis akan baik dengan sendirinya kalau masalah fisiknya sudah dapat diobati. Masalah psikis biasanya temporer,” jelasnya.

Masyarakat, kata Fithrie, harus memeroleh informasi yang benar dan tepat mengenai pengobatan terkait makin banyaknya pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang menawarkan produk-produk ilegal terkait disfungsi ereksi.

“Kita sebagai masyarakat harus cerdas untuk bisa memilih pengobatan mana yang bisa dipertanggung jawabkan secara medis. Kalau tidak ada ijin penjualan dan registrasi maka tidak boleh menjual,” katanya.
Fithrie menilai, banyaknya obat-obatan ilegal yang dijual bebas di pinggir jalan menunjukkan bahwa penegakan hukum di Indonesia masih sangat lemah. Hal ini tentunya akan sangat merugikan dan menjadi ancaman berbahaya bagi masalah kesehatan masyarakat.

“Secara jujur, banyak sekali industri jamu kita yang bilang itu obat kuat dan herbal. Tetapi isinya ternyata viagra dengan dosis 300 mg. Padahal dosis maksimal viagra hanya 100 mg. Di sinilah masyarakat harus cerdas,” tutupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar