Dampak kegemukan atau obesitas pada kesehatan terus dikaji para ahli.
Studi terbaru mengungkapkan, pria yang obesitas memiliki kualitas sperma
yang buruk dibandingkan dengan pria yang berat badannya seimbang.
Selama
beberapa dekade para ahli meneliti dampak kegemukan pada kesuburan
seorang pria. Beberapa literatur menyebutkan, kualitas sperma pria gemuk
lebih rendah, antara lain terlihat dari jumlah sperma yang sedikit dan
sperma yang mampu berenang dengan gesit.
Studi teranyar yang
dilakukan peneliti dari Argentina semakin menguatkan studi-studi
sebelumnya. Para peneliti mengevaluasi contoh air mani 794 pria yang
bersama pasangannya sedang melakukan program kehamilan.
Para
peneliti menemukan bahwa 155 pria yang tergolong obesitas memiliki
sedikit sperma yang mampu berenang dengan gesit dan mampu berpindah
tempat dibandingkan dengan pria yang berat badannya normal.
Pria gemuk juga cenderung memiliki kadar neutral alpha glucosidase
(NAG), yakni enzim yang dikeluarkan oleh cairan epididimis, yang
menandakan apakah sebuah sel sperma matang dan dapat berenang. Kadar NAG
dalam cairan mani bisa menjadi pertanda baik buruknya fungsi
epididimis.
"Ini adalah studi pertama yang mengungkapkan dampak
obesitas terhadap fungsi epididimis. Meski begitu, bukan berarti seorang
pria akan menjadi tidak subur karena berat badannya bertambah," kata Dr
Ana Carolina Martini dari National University of Cordoba, Argentina.
Meski
berpengaruh pada sedikitnya jumlah sperma yang aktif berenang, dalam
riset yang dilakukan Dr Ana ini tidak ditemukan dampak kegemukan pada
kualitas air mani, termasuk jumlah sperma, kadar testosteron, dan jumlah
sperma dengan bentuk yang normal.
Walau demikian, Dr Ana
mengungkapkan, masih ada kesempatan bagi pria gemuk untuk meningkatkan
kualitas spermanya dengan cara mengurangi bobot tubuhnya. Penelitian
menunjukkan, pengurangan berat badan mampu mengembalikan keseimbangan
hormon reproduksi.
Penelitian ini, papar Dr Ana, memiliki
beberapa pembatasan, yakni responden adalah orang yang memang memiliki
masalah kesuburan dan kadar indeks massa tubuh yang sebenarnya tidak
bisa menjadi ukuran berapa lemak tubuh yang sebenarnya. Para ahli
mengatakan, pengukuran lemak di perut lebih efektif untuk mengetahui
kadar hormon seks dibandingkan dengan indeks massa tubuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar