Banyak orang yang mengatakan segala permasalahan dalam hidup berpasangan akan terselesaikan setelah menikah. Ternyata itu semua tidak selamanya benar, justru ada beberapa permasalahan yang baru akan dihadapi setelah Anda memasuki perkawinan. Mau nggak mau, Anda harus menghadapinya.
Uang.
Bagian yang paling sulit dari pernikahan adalah belajar menyatukan
penghasilan di rekening bersama. Nah, Anda harus berkomunikasi satu sama
lain dalam pemakaian uang tersebut agar tidak menimbulkan pertengkaran.
Bila sebelum menikah Anda bebas menggunakan uang Anda untuk berbelanja,
kini Anda harus memberitahu suami jika ingin membelanjakannya. Hal ini
akan menjadi masa penyesuaian yang cukup sulit.
Kebebasan. Menikah
adalah suatu keputusan besar, karena Anda harus merelakan diri untuk
berbagi kehidupan dengan seseorang untuk selamanya. Akan ada masa di
mana Anda merasa “terganggu” dengan keberadaan pasangan sepanjang waktu.
Bagi mereka yang baru menikah, menukar kebebasan yang dimiliki saat
masih lajang dengan ikatan perkawinan akan menjadi proses yang sangat
berat untuk dijalani.
Hiburan. Menemani
pasangan menikmati hiburan yang disukainya akan membutuhkan
pengorbanan, terutama jika Anda tidak menggemari hiburan tersebut. Anda
harus belajar mengalah pada pasangan. Misalnya, saat Anda berdua
menonton acara televisi, mungkin Anda ingin sekali mengikuti kelanjutan
kisah film seri favorit Anda. Namun pada saat yang sama ada pertandingan
bola dari laga yang sudah ditunggu-tunggu oleh suami. Nah, di sini
memang diperlukan sikap toleransi untuk mengerti satu sama lain. Agar
suami tidak ketinggalan pertandingan penting tersebut, Anda bisa
menunggu tayangan ulang dari episode serial kegemaran Anda.
Persaingan karier. Sebagian
besar pertengkaran dalam sebuah pernikahan disebabkan adanya
kesenjangan karier antara Anda berdua. Misalkan, suami hanya berstatus
karyawan biasa, sedangkan Anda memiliki kedudukan tinggi di kantor Anda.
Awalnya, suami mungkin tidak akan mempermasalahkannya. Namun
lama-kelamaan, ego pria bisa terusik melihat pasangannya terus
berprestasi dan gajinya semakin tinggi.
Barang-barang pribadi. Tahun
pertama dalam pernikahan, Anda selalu diliputi pertengkaran karena
pengaturan barang-barang pribadi. Anda mengharapkan suami memiliki
standar yang sama dengan Anda. Misalnya, selalu merapikan lemari
pakaian, meja kerja, atau menggunakan sabun mandi atau pasta gigi dengan
cara Anda. Buat Anda hal ini sangat penting, sementara buat dia sama
sekali tidak penting. Itulah yang akan memicu pertengkaran.
Pekerjaan rumah tangga. Tidak
semua pria terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga, dan hal ini
kadang-kadang merupakan kultur yang dibawa dari keluarganya. Contoh,
pria yang dibesarkan oleh ibu yang berstatus ibu rumah tangga, atau yang
datang dari keluarga dengan kultur pembagian jender yang kuat (anak
laki-laki harus ke ladang, dan anak perempuan membantu di dapur), akan
menuntut dilayani. Permintaan Anda agar dia ikut melakukan pekerjaan
rumah tangga akan membuatnya canggung, atau bahkan tersinggung. Boleh
saja Anda menuntutnya untuk berubah, tapi jangan berharap bisa berubah
drastis.
Mertua. Hubungan
dengan mertua bisa menjadi sulit, dan hal itu bukan disebabkan karena
Anda memiliki masalah dengan mereka. Ini dapat dikarenakan, orangtua
pasangan Anda bukanlah orangtua kandung yang mengenal Anda dengan baik,
begitu pula sebaliknya. Maka, saat mereka ingin menghabiskan waktu
bersama anaknya, akan ada kecemburuan yang terjadi. Atau, kecurigaan
bahwa mertua ingin menyampaikan hal-hal buruk tentang Anda. Yang dapat
Anda lakukan adalah memberi waktu agar Anda dan mertua saling mengenal
lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar